Story of Life

Be Careful What You Wish For

A dream written down with a date becomes a goal. A goal broken down into steps becomes a plan. A plan backed by action makes your dream come true”. Greg S. Reid

IMG_5035
Wish Tree in Meiji Shrine, Tokyo, March 2017.

Awal 2017 lalu, waktu kita masih tinggal di Kuala Lumpur, aku sama Wahyu ada keinginan akan Europe Trip di akhir tahun. Pengennya sih waktu autumn biar sudah nggak terlalu panas, tapi juga nggak sedingin winter.

Dari Europe Trip Wahyu sebelumnya, tahun 2015, Wahyu paling suka sama Rotterdam, Amsterdam dan Berlin. Jadi rencananya, negara yang paling pengen ditengok lagi sama Wahyu adalah Belanda & Jerman, karena Wahyu pengen suatu saat nanti Wahyu bisa dapat kerja dan kita bisa pindah tinggal di (antara) dua negara itu.

Sampai pertengahan 2017 kita belum ada lho bayangan akan pindah dari Kuala Lumpur. Udah nyaman banget. Lha wong rencananya kita akan minimal 2-3 tahun stay di Kuala Lumpur. Tapi ternyata Wahyu penasaran sama kemampuannya. Sekitar mulai bulan Juli gitu Wahyu coba coba apply kerja di beberapa perusahaan di Belanda dan Jerman. Setelah melalui proses interview yang sangat panjang (seingatku sih lebih dari 8 kali interview + live coding), ternyata Wahyu dapat yang di Hamburg. Fyi, kalo ada yang tanya Wahyu kerjanya apa, he is a programmer, lebih sempitnya sih ios developer. Jangan tanya aku dia kerjanya ngapain ya, akupun tak tau 😀

13767493_275264119532266_2130280194_n

Keputusan kita akan pindah ke Hamburg baru diambil akhir September. Waktu tanda tangan kontrak kerja, perusahaan yang di Hamburg sudah menetapkan hari kerja pertama Wahyu adalah tanggal 15 Desember. Sedangkan di kantor Wahyu sebelumnya yang di Kuala Lumpur, untuk proses resign harus kasih notice 3 bulan. Belum lagi harus urus cancelation visa, belum urus tax clearance, etc. Ngebayanginnya sebelum mulai aja waktu itu udah rasanya stres banget.

Proses untuk pengajuan permohonan National Visa Germany ternyata nggak semudah yang sebelumnya aku bayangkan. Banyak dokumen yang harus dilegalisir di beberapa kementrian di Indonesia. Mengingat aku tinggalnya di Kuala Lumpur, jadi lah aku harus bolak balik Malaysia – Indonesia. Nggak kehitung berapa kali aku harus Pulang Pergi Kuala Lumpur – Jakarta – Kuala Lumpur di hari yang sama. Dan karena Wahyu sedang proses resign, jadi khan Wahyu udah nggak punya jatah cuti, jadi ya aku sendirian urus-urusnya. Lelah? Ya jangan ditanya lagi 😀

Yang paling gila sih waktu harus ngurus legalisir salah satu Buku Nikah di KUA tempat melangsungkan pernikahan, dan harus antar Buku Nikah yang satunya lagi ke Penerjemah Tersumpah di Jakarta, tapi juga aku harus sudah ada di Kuala Lumpur keesokan harinya karena proses cancelation visa sudah harus dimulai, dan paspor akan ditahan sekitar 2 minggu. Jadi deh tuh, aku ambil penerbangan jam 7 pagi, Kuala Lumpur – Palembang, cuma beberapa jam di Palembang untuk antar Buku Nikah biar Ayah yang urus ke KUA Belitang, dan siangnya aku langsung terbang dari Palembang ke Halim Perdana Kusuma, Jakarta, antar dokumen, langsung naik taxi ke Soekarno Hatta, dan jam 9 malamnya aku terbang balik lagi ke Kuala Lumpur.

Setelah sudah terlalu banyak drama dalam proses kita untuk dapetin National Visa Germany, akhirnya kita baru dapat visa tanggal 27 Desember 2017. Waktu itu kita malah beneran sudah pasrah lho, karena khan seharusnya hari pertama Wahyu kerja 15 Desember, sedangkan di tanggal itu Wahyu bahkan belum dapat ZAB Approval, itu semacam authorization dari (semacam) Kementrian Pendidikan di Jerman yang menyatakan kalo pendidikan S1 Wahyu itu setara atau memenuhi kualifikasi. Untungnya kantor baru Wahyu masih mau kasih perpanjangan waktu sampai 15 Januari. Tapi waktu itu mikirnya, ya udahlah, kalo memang nggak dapat yang di Jerman ya berarti belum rezeki kita, dan Wahyu udah siap-siap cari kerja di tempat lain lagi. Ternyata memang ya, ketika kita sudah pasrah, Tuhan kasih jalan..

IMG_4233

Hari ini, menjelang akhir February, aku dan Wahyu sudah satu bulan lebih tinggal di Hamburg. Insya Alloh kita akan menetap di Jerman untuk beberapa tahun. Aku bilang sama Wahyu, minimal 3 tahun lah ya, capek pindahannya aja masih kerasa kalo baru satu tahun mah.

Kalo lagi sendirian, jadi suka mikir, hebat ya kekuatan mimpinya Wahyu. Bahkan di waktu yang sama satu tahun yang lalu, belum ada bayangan sama sekali tahun ini kita akan ada di Hamburg, bukan untuk liburan, tapi untuk menetap. Kalo ada yang komentar “enak banget sih Nis kerjaan suami kamu bisa pindah negara terus” atau komentar lainnya “enak ya Nis hidup kamu tinggal di luar negeri”, aku bingung jawabnya. No guys, yang aku post di instagram hanya bagian indahnya saja, hehehe. Proses panjang dibalik itu untuk Wahyu, untuk aku dan Wahyu bisa ada di sini sekarang banyak yang nggak kalian lihat 🙂

Dari beberapa kejadian di hidupku, aku jadi sering inget sama Quote yang bilang “Be careful what you wish for” atau kalo waktu kita kecil dulu dibilangin khan “gantungkan cita cita setinggi langit“. Kalo punya mimpi, tulis aja dulu di wish list kita, siapa tau di waktu mendatang, di tahun-tahun kedepan semesta bantu kita untuk mewujudkannya.. Sama kayak salah satu cita-cita Wahyu dulu, bisa kerja di Jerman. Dan sekarang Wahyu beneran dapat kerja di Jerman.. 🙂

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s